Memasuki bulan Januari, Jogja kembali menarik minat wisatawan melalui
beragam acara budaya yang sangat menarik, setelah sukses menikmati
gelaran akbar
Jogja Java Carnival Desember lalu, memasuki awal
tahun 2011 ini para wisatawan akan dimanjakan dengan Pasar Malam
Perayaan Sekaten (PMPS) yang juga merupakan acara tahunan yang selalu
meriah.
Seperti biasanya, acara PMPS kali ini berpusat di Alun-alun utara dan
Masjid Agung Kauman. Digelar selama sebulan lebih dari 7 Januari hingga
15 Februari 2011, PMPS akan menyuguhi para pengunjung pecinta kebudayaan
nusantara khususnya kekentalan budaya “Kejawen” dengan rangkaian acara
di antaranya:
- Festival Potensi Wilayah (8-30 januari), yang mengusung tema “Ragam
Jogja Budaya Seni” yang menampilkan karya dari berbagai wilayah
kelurahan di Jogjakarta, diantaranya dengan pertunjukan seni tari,
musik, dan teater di atas panggung kesenian yang disediakan.
- Festival Band Religi,
- Festival Busana Muslim,
- Resital Gaguritan (8 Februari pukul 11:00 sampai 21:00),
mengangkat tema “Yang Muda Yang Mengangkat Seni Tradisi” akan
menampilkan pertunjukan beberapa seni pusi bahasa Jawa, namun bukan
untuk dilombakan. Acara ini bertujuan mengenali potensi geguritan yang
tumbuh di masyarakat. Setiap peserta yang ikut serta boleh mengangkat
tema religi, wali, meupun puji-pujian. Acara ini juga diadakan di
panggung kesenian PMPS.
- Festival Seni Tradisi Religius,
- Festival Ketoprak (8 Januari-13 Februari setiap Sabtu, Minggu,
dan Kamis pukul 21:30 hingga 23:30), sebanyak 14 grup akan mengisi acara
ini dengan menampilkan berbagai lakon yang menggambarkan Islam seperti
Menak, Babad, dan lainnya. Ketoprak ini juga bertempat di Panggung
kesenian PMPS.
- Rangkaian pasar rakyat dengan puluhan stand pendukung dengan
produk-produk permainan, kuliner, peralatan rumah tangga, pakaian,
hingga stand-stand daerah.
Acara sebulan penuh ini memang menjadi penanda awal tahun yang meriah
bagi masyarakat Jogjakarta dan pecinta seni budaya tradisi Jawa.
Peringatan Maulid Nabi yang menjadi rangkaian inti acara Sekaten ini
selalu ramai dikunjungi oleh warga dan wisatawan pada setiap
penyelenggaraannya.
Menurut sejarahnya, Sekaten sendiri diselenggarakan untuk memperingati
lahirnya Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tanggal 12 bulan Maulud,
bulan ketiga dari tahun jawa. Sekaten merupakan upacara pendahuluan
dari peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Diselenggarakan
pada tanggal 5 hingga tanggal 12 dari bulan yang sama. Selain di
Keraton Jogjakarta juga diselenggarakan di Keraton Surakarta.
Perayaan sekaten diantaranya meliputi “Sekaten Sepisan” yakni
dibunyikannya dua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur
Madu, kemudian pemberian sedekah `Ngarso Dalem` Sri Sultan HB X berupa
`udhik-udhik` (menyebar uang) dan kemudian diangkatnya kedua gamelan
menuju Masjid Agung Jogjakarta dan ditutup dengan Grebeg.
Sekaten Jogjakarta/handoyoblog.com
Kata Sekaten diambil dari pengucapan kalimat
“Syahadat”.
Istilah Syahadat, yang kemudian diucapkan sebagai Syahadatain ini
kemudian berangsur- angsur berubah dalam pengucapannya, termasuk
peleburan dengan kultur dan sastra Jawa sehingga menjadi Syakatain dan
pada akhirnya menjadi istilah
“Sekaten” hingga sekarang.
Pada masa-masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, salah
seorang dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijogo, mempergunakan instrumen
musik Jawa Gamelan, sebagai sarana untuk memikat masyarakat luas agar
datang untuk menikmati pergelaran karawitannya. Untuk tujuan itu
dipergunakan 2 perangkat gamelan, yang memiliki laras swara yang merdu
yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu.
Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo
dan Kyai Guntur madu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dibangsal
Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara
(Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Antara
pukul 23.00 hingga pukul 24.00 ke dua perangkat gamelan tersebut
dipindahkan kehalaman Masjid Agung Jogjakarta, dalam suatu iring-iringan
abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Keraton berseragam
lengkap.
Puncak acara Sekaten adalah “
Grebeg Maulud”, yaitu
diusungnya sepasang gunungan berisi pangan keluar dari Masjid Agung
setelah sebelumnya didoakan oleh para ulama setempat. Inilah yang
selalu menjadi sasaran wisatawan yang percaya bahwa berebut dan
memperoleh sajian pangan dari gunungan Sekaten akan membawa berkah
tersendiri dalam hidup serta rezeki dan hasil panen melimpah. Masyarakat
Jogjakarta juga percaya bahwa agar mendapat imbalan dari Yang Maha
Kuasa, masyarakat harus rela berusaha. Sebagai ” Srono ” (syarat)-nya,
mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada
hari pertama dimulainya perayaan sekaten. Oleh karenanya, selama
diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih
dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman
Kemandungan,di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Jogjakarta.
Selama penyelenggaraannya, seluruh wewenang regulasi dan pengelolaan
PMPS dipegang oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Jogjakarta karena
manyangkut pelestarian budaya nasional yang diakui oleh negara.
***
Jika Anda tertarik berkunjung ke PMPS Jogjakarta 2011, berikut beberapa tips yang mungkin berguna.
Siapkan kendaraan Anda yang fleksibel dan bisa menerobos macet. Animo
masyarakat yang tinggi terutama pada jam-jam istirahat berpotensi
menyebabkan macet di sepanjang Jalan Malioboro, Jalan Sultan Agung, atau
Jalan Mataram yang menjadi jalan masuk ke area PMPS. Jalan Mataram
adalah jalur yang biasanya relatif lengang di samping karena memang ruas
jalannya teratur dua arah hingga ke kawasan Nol Kilometer.
Bagi Anda yang membawa kendaraan roda dua, kantung parkir utama berada
di bagian selatan Kantor Pos, dekat gerbang utama PMPS. Siapkan receh
anda untuk tarif parkir Rp 2.000,- dan tiket masuk Rp 5.000,- (belum
dikonfirmasi).
Waktu paling ramai adalah malam selepas Maghrib hingga sekitar pukul 21:00.
Kapal Othok-othok, salah satu produk mainan tradisional yang dijual di PMPS/flickr
***
Semoga ini menjadi perpanjangan urat pelestarian budaya nasional kita yang bertahan hingga generasi-generasi mendatang.